04 Februari 2014

Tri Tangtu Filosofi Adat Sunda



Tri artinya tiga, tangtu (bhs. Sunda) artinya pasti atau tentu. Tangtu, diperkirakan berasal dari bahasa Sansakerta, yakni tan yang berarti jaring labah-labah dan tantu yang artinya benang atau ikatan. Tri tangtu, pikukuh tilu, atau hukum tilu, adalah sebuah konsep atau gagasan berpikir filosofis yang rasionalitasnya digunakan untuk menjaga keselarasan dalam berkehidupan, baik secara vertikal maupun horizontal. Filosofi tri tangtu adalah, ”tiga untuk ber-satu, satu untuk ber-tiga”. Prinsipnya, bahwa ”tiga hal” itu sebenarnya adalah ”satu hal”, demikian sebaliknya. Bersifat paradoksal, menyatu ke dalam dan mengembang ke luar. dari luar tampak tenang, teguh, satu; dan di dalam aktif dengan berbagai aktivitas.

Di dalam masyarakat adat Jawa Barat, tri tangtu adalah pakem atau ’kitab ahlak budaya’ sebagai rujukan perilaku yang meliputi tiga aspek berkehidupan: 1) tri tangtu dina raga atau salira,  2) tri tangtu di buana dan 3) tri tangtu di nagara. Masing-masing gagasan dan konsep berkehidupan itu mempunyai pembagian, peranan, tatacara, dan pelaksanaannya sendiri.

Konsep tri tangtu dina raga, misalnya, adalah pakem atau tuntunan yang menyangkut pribadi (ego) sebagai manusia. Melalui konsep ini, manusia diberi tuntunan untuk memahami dan mempertanyakan dirinya sendiri: dari mana asal, mau ke mana, dan apa tujuan hidup ini? Oleh sebab itu, gagasan tri tangtu dina raga, senantiasa mengingatkan kita pada hal-hal yang berkaitan dengan moralitas kehidupan atau ahlak budaya. Konsep ini pun menyadarkan pada kita tentang pentingnya ’hidup dalam berketuhanan’ dan hidup dalam berkemasyarakatan.

Ungkapan, dzat, sifat, atma; sir, rasa, pikir; tekad, ucap, lampah; silih asah, silih asuh, silih asih; nyawa, raga, pakean, naluri, nurani, nalar (SQ, EQ, dan IQ) dan sederet ungkapan lainnya, pada dasarnya adalah rucita (tuntunan) berkehidupan itu. Ungkapan tiga yang disatukan itu, adalah sebuah sistem hubungan yang masing-masing menjelaskan dan mempunyai makna kausalitasnya. Persoalannya, bagaimana kita bisa membaca sistem hubungan dibalik masing-masing aktivitas itu. Bahwa konsep pemikiran primordial tersebut memang memerlukan perenungan, namun intinya adalah, bagaimana manusia mengubah dirinya menjadi manusia yang lebih luhur sehingga bisa mencapai yang transenden, yakni mencapai apa yang berada di luar dunia nyata. Tekad dan Ucap tidak akan berbuah apapun tanpa Lampah. Demikian pula, tidak akan ada Lampah tanpa Tekad dan Ucap. Itulah salah satu makna asas kesatuan tiga dina raga.

Konsep tri tangtu di buana (nagara), adalah hukum yang mengatur kehidupan masing-masing individu dan kelompok di dalam sebuah wilayah kekuasaan, atau ketatanegaraan, baik luas maupun sempit. Secara luas, konsep tersebut adalah tuntunan kehidupan bernegara secara umum, dan secara sempit adalah tuntunan kehidupan bermasyarakat di wilayah kehidupan adat yang mereka anut. Tri tangtu di nagara di dua wilayah kekuasaan yang berlainan itu terkadang menimbulkan perubahan bagi pihak-pihak yang terlibat. Hubungan di antara keduanya membentuk sistemnya sendiri dengan tetap berpedoman pada makna yang disebut baik, benar, dan bagus. Ungkapan resi, ratu, rama, misalnya, adalah sebuah pengaturan potensi dari sebuah sistem kekuasaan. Resi adalah mahaguru agama, adat, dan yang menciptakan ajaran-ajaran. Ia adalah pemilik kekuasaan yang sesungguhnya, namun tidak menjalankan mandat kekuasaan. Ratu adalah yang menjalankan dan melaksanakan pemerintahan yang dikenal dengan raja. Rama adalah rakyat yang menjalankan apa yang diperintahkan Resi dan diundangkan Ratu dan segala aturannya harus ditaati. Di kalangan penganut kepercayaan Sunda Wiwitan di Cigugur-Kuningan, dikenal ungkapan Rama Panyipta, Rama Pangwedar, dan Rama Panyusun. Hal ini sejalan dengan ungkapan lainnya, parentah, panyaur dan pamundut yang berlaku di masyarakat adat Kampung Naga.

Tri tangtu di buana, sejajar dengan konsep Tria Politika (Montesquieu) yang membagi kekuasaan menjadi tiga: Yudikatif, Legislatif, dan Eksekutif. Dalam kaitannya dengan penataan lingkungan kehidupan, dikenal pula ungkapan yang membagi ekosistem ke dalam tiga bagian: leuweung larangan, leuweung tutupan, dan leuweung garapan. Dengan demikian, makna tri tangtu adalah keseimbangan dalam berkehidupan. Sistemnya bersifat atomik, seperti halnya atom yang terdiri atau neutron, proton, dan elektron. Jika salah satu dari ketiga hal itu lepas, maka kehidupan menjadi tidak harmonis dan akhirnya menimbulkan ketidakselarasan, kekacauan, dan bencana. Kekacauan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat akhir-akhir ini, atau kerusakan alam yang mengakibatkan berbagai bencana, adalah akibat dari lepasnya salah satu ikatan tadi.

Sumber : http://tikarmedia.or.id/ensiklopedia/ensiklopedia_detail/103

Tri Tangtu Panyca Pasagi Ingsung Sunda


Kiriman: Kang Kamal

TRI Tangtu PANYCA PASAGI
PURBATISTI PURBAJATI I SUNDA Sembawa SUNDA MANDALA

Tri Tangtu (Rama Resi Ratu) merupakan tiga kekuataan Purbatisti Purbajati i Bhumi Pertiwi yang menghasilkan Uga (perilaku) Ungkara (nasehat) Tangara (tanda alam), sebagai sistem polaperilaku dalam berbangsa dan bernegara yang telah dipergunakan oleh para Pangagung mwah Pangluhung i Sunda Sembawa Sunda Mandala.

Panyca Pasagi (Sir Budi Cipta Rasa Adeg) adalah lima kekuatan dalam diri manusia (Raga Sukma Lelembutan) yang merupakan dasar kekuatan untuk menimbulkan serta menentukan Tekad Ucap Lampah Paripolah Diri manusia yang akan dan harus berinteraksi dengan Sang Pencipta, Bangsa dan Negara, Ibu Bapak Leluhur , Sesama makluk hidup, dan alam kehidupan jagar raya (Buana Pancer Sabuder Awun). Tri Tangtu sebagai karaktek tugas (mandala pancen) diterapkan guna kepentingan interaksi dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan kekuatan yang telah diberikan kepada setiap manusia dan bangsa oleh Tuhan Yang Maha Kuasa (Gusti Hyang Widi Sang Pencipta dan Penguasa Jagat Buana). Rama; berkarakter tugas menentukan dan membentuk suatu ketentuan berdasarkan sifat dasar kebenaran, Resi; berkarakter tugas mempertahankan ketentuan berdasarkan sifat dasar kebaikan, Ratu; berkarakter melaksanakan tugas Kepemimpinan berdasarkan sifat dasar guna manfaat. Sehingga Tri Tangtu merupakan gambaran kebaikan dan kebenaran yang berguna manfaat.Tri Tangtu merupakan kekuatan sistem dalam polaperilaku yang saling keterkaitan antar sifat baik benar dan guna, sehingga tatkala Tri Tangtu dapat dilaksanakan maka kekuatan yang telah diberikan oleh Sang Pencipta dalam diri, bangsa dan Negara serta Alam Kehidupan Buana Pancer Tengah, benar-benar dapat dipergunakan sebagaimana mestinya untuk ketentraman dan kenyamanan dalam berinteraksi.Tri Tangtu dapat dilaksanakan oleh manusia sebagai makhluk termulya yang memiliki kekuatan pengendali utama dalam berinteraksi tentunya harus didukung dengan kekuatan diri manusia itu sendiri (Raga Sukma Lelembutan) . Manusia memiliki awal dan asal kekuatan yang telah diberikan oleh Gusty Hyang Tunggal melalui kekuatan dan kekuasaannya yaitu Ibu Bapak Leluhur manusia itu sendiri. Kekuatan Awal dan Asal yang bersumber dari Ibu Bapak Leluhur tersebut adalah Sir Budi Cipta Rasa Adeg disebut sebagai Panyca Pasagi (Catur driya Panyca Pasagi). Polaperilaku yang didasari kesadaran akan Purbatisti Purbajati (Tri Tangtu Panyca Pasagi), tidak akan bertentangan dengan nilai-nilai Dasar Negara dan Bangsa Indonesia sekarang yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, norma social kemasyarakatan, dan suatu agama, karena menyangkut polaperilaku yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk kebaikan, kebenaran serta guna manfaat.

Polaperilaku manusia yang didasari kekuatan diri Panca Pasagy yang bersandarkan pada Tri Tangtu, akan menimbulkan kesadaran diri, sehingga dalam melaksanakan interaksi kehidupannya sehari-hari sebagai bagian dari rumah tangga, keluarga, masyarakat, rakyat, bangsa dan Negara selalu mengutamakan kebaikan, kebenaran dan penggunaan, sehingga ketentraman dan kenyamanan dalam kehidupan sebagai makluk termulya dapat tercapai dengan keyakinan akan kekuasaan Gusty Hyang Widi.
Purbatisti Purbajati i Sunda Sembawa Sunda Mandala telah dilaksanakan oleh para Pangagung mwah Pangluhung Bangsa i Bhumi Pretiwi dalam memimpin bangsa dan Negara, sehingga tercapai taraf kehidupan yang sejahtera jaya sentosa, berwibawa disegani oleh semua bangsa di dunia, seluruh rakyat tunduk karena suka cita. Sehingga dituturkan kembali sebagai "kidung luhung ti karuhun, sasaka pusaka buhun, pikeun Maruka Wiwitan pakeun heubeul jaya di buana nanjer na juritan", untuk diikuti dan dipahami oleh rakyat bangsa i Bhumi Pertiwi kiwari ka bihari. "Mahayu na kadatuan Surawisesa nu marigi sakuliling dayeuh nu najur sagala desa aya ma nu pandeuri pakena gawe rahhayu pakeun heubeul jaya dina buana, ... hetunya nagaramu wus agheng jaya santosa wruh ngwang kottaman ri puyut katisayan mwang jayashatrumu, ... ya siya nu nyiyan sakakala gugunungan ngabalau nyiyan samidam nyiyan sanghyang talaga rena mahawijaya, ya siya pun i saka, panca pandawa mban bumi, ... Purbatisti purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit, suka kretatang lor kidul kulon wetan kena kretaras, sing para dewata kabeh pada bakti ka Batara Seda Niskala ... pahi manggihkeun si tuhu lawan pretyaksa ".

Pamugi Gusti Hyang Widi karunya ning cita ning samaya.
"Ini sabdakaladara rakyan juru pangambat i kawi sunda panyca pasagi marsa ndesda barpulihkan haji sunda". Rahayu Bagea Salamet.



14 Januari 2014

Heuheureuyan make gambar

Babalagonjakan ngaliwatan gambar. 
Ieu gambar sagemblengna meunang hasil ngedit sim kuring, sumangga bilih anu peryogi tiasa didownload kanggo dijantenkeun DP dina BBM atanapi anu sanesna.
Mung pamugi seratan Jayus_emo na teu kenging diicalkeun.
Insha Alloh kapayunna baris ditambihan deui....